Showing posts with label Fauna. Show all posts
Showing posts with label Fauna. Show all posts

Thursday, July 19, 2012

Legenda Pesut Mahakam

legenda pesut mahakam
Pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.
legenda pesut mahakam

Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.
legenda pesut mahakam

Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
"Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!" perintah sang ibu, "Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!"
"Tapi, Bu..." jawab anak lelakinya, "Untuk apa kayu sebanyak itu...? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi..."
"Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!" kata si ibu tiri dengan marahnya.

Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.

Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!" tanya kakek itu kepada mereka.
Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.
"Kalau begitu..., pergilah kalian ke arah sana." kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, "Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!"

Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.

Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.

Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.

Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.

Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.
"Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?" tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
"Maaf, Tok." kata si anak lelaki, "Kami ini sedang mencari kedua urangtuha kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?"
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
"Hmmm..., beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini." kata si kakek kemudian, "Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?"
"Tak salah lagi, Tok." kata anak lelaki itu dengan gembira, "Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?"
"Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana."
"Terima kasih, Tok..." kata si anak sulung tersebut, "Tapi..., bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?"
"Datok ni dah tuha... mana kuat lagi untuk mendayung perahu!" kata si kakek sambil terkekeh, "Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu."

Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Didalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.

Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.

Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.

Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.

Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.***

Sunday, July 15, 2012

Legenda Komodo di pulau Komodo

Legenda Komodo di pulau Komodo

Konon, orang-orang pulau Komodo di Timur Indonesia percaya, kalau dulu Komodo adalah bagian dari nenek moyang mereka . Mereka percaya kalo asal-usul komodo tuh dari manusia. Jadi, dulu banget, ada manusia yang melahirkan anak kembar. Tapi pasangan kembar itu berbeda spesies. Satu manusia, satu komodo. Sayangnya, orangtua mereka kemudian membedakan perlakuan terhadap dua anak kembar itu, alias lebih sayang dan perhatian sama anak yang wujudnya manusia. Akhirnya, karena sedih, sang komodo pergi dari rumah, masuk hutan, dan menetap di sana sampai beranak pinak.

pulau komodo
Warga pulau Komodo biasa hidup berdampingan dengan Komodo. Dan kini, sebagai wujud penghargaan mereka kepada komodo, yang notabene masih sodaraan dengan nenek moyang mereka, warga pulau komodo membuat patung-patung komodo mini.

Cerita ini diberikan oleh wakil kepala kampung Komodo dan itu menjelaskan asal orang dan naga Komodo.




Di Pulau Komodo puluhan abad yang silam, ada sekelompok manusia primitif. Mereka tinggal di kampung Marawangkan dan ada kepala adat yang bernama Umpu Najo. Kalau ada wanita di desa itu yang mau melahirkan, Umpu Najo membelah perutnya jadi bayi itu bisa diambil. Ibu tersebut mati tetapi anaknya hidup.

Umpu Najo mempunyai seorang putra yang akan menikah dengan putri yang bernama Epa. Sembilan bulan setelah acara perkawinan sudah dilangsungkan, Epa siap untuk dibelah. Acara pembelahkan perut itu dilangsungkan dengan sejuta duka dan luka di hati putra kepala adat. Dia pertahankan nasib malang karena itu tradisi kampung Marawangkan dan dia menyaksikan pembelahan perut istrinya. Epa meninggal dan ada dua putra.

Putra kembar ini adalah Ora (naga) dengan manusia. Nanti, ayah baru itu melupakan tragedi rumah tangganya dan menikah lagi dengan gadis dari kampungnya. Setahun berlalu dan istri putra Umpu Najo menjadi hamil, dan ayah itu tidak memberi kasih pada anaknya. Mereka merasa frustrasi atas sikap orang tuanya dan akhirnya, Ora memilih tinggal di hutan sementara kembarnya masih tinggal di kampung Marawangkan. Setiap kali Ora masuk kampung, dia mencuri ayam.

Perut Ibu tiri Ora akan dibelah sesudah beberapa hari. Sehari sebelum upacara itu dimulai, ayah Ora berlari jauh dari kampungnya karena dia tidak bisa menyaksikan tragedi kedua yang menyakitkan hatinya. Pada saat itu, Umpo Najo kedatangan tamu asing. Tamu asing ini adalah pengembara dari Sumba yang kehabisan bekal di perjalanan. Mereka pergi ke rumah Umpu Najo dan dia bertanya kepada tamunya, “Anda berasal dari mana?”

Seorang Sumba menjawab, “Aku dan kawan-kawanku berasal dari Sumba, negeri di seberang lautan di selatan pulau ini, dan kami kehabisan bekal. Kami melihat asap di puncak ini dan memikirkan pasti ada perkampungan, kapal kami berlabuh di pantai.” Ia bertanya, “Mengapa ada banyak orang yang menangis di rumah Umpu?”

Umpu menjawab, “Karena perut menantu saya akan dibelah.”

“Mengapa?” tanya orang Sumba.

“Karena itu kebiasaan kami disini. Kalau ada wanita yang hendak melahirkan, perutnya akan dibelah. Ibu mati, anaknya hidup.”

Orang Sumba bertanya lagi, “Apakah tradisi ini bisa diubah?”

“Apa maksudmu?” tanya Umpo.

“Maksud saya, kami punya ibu yang akan menolong menantu Umpu. Saya yakin dia selamat dan Anda tidak perlu melakukan acara pembelahan perut lagi.”

“Jikalau kamu bisa mengubah tradisi kami, saya akan memberi sebagain pulau ini kepadamu,” kata Umpo pada tamunya.

“Baiklah,” jawab orang Sumba.

Sebagian penduduk kampung itu pergi ke pantai Loh Wau dan kembali dengan dukun wanita dari Sumba. Dukun itu menolong menantu kepala desa dan akhirnya, ada dua kembar lain, satu putri cantik dan yang satu naga Komodo yang bernama Sabae.

Kembar itu diletakan di atas dulang dan ibunya yang selamat, beristirahat diatas palfum. Sehari sesudah acara itu, ayahnya kembali dengan air mata dan melihat anaknya yang diletakkan diatas dulang. Tiba-tiba, tetes air dari atas taja mengenai dan dia bertanya pada Umpu Najo, “Apa air itu, Bapak? Ada nangka di atas taja?”

“Tidak, nak, di atas taja adalah istrimu, dengan penuh rasa bahagia.”

Mereka menangis karena dukun penolong itu merubah tradisi desa Marawngkan dan manusia disana bisa berkembang. Mereka pindah ke tempat lain di Pulau Komodo dan orang Sumba dan Marawangkan menjadi saudara.

Hingga saat ini, orang kampung Komodo percaya bahwa mereka kembar naga Komodo. Kedua tangannya mempunyai lima jari dan ada satu jantan Komodo untuk setiap 3.4 betina. Pada jaman kuno, kalau orang kampung membelah wanitanya, perbandingan ini mungkin sama.

Dengan darah yang sama, orang dan naga Komodo tinggal bersama-sama dengan tenang sejak jaman kuno. Ketika orang kampung boleh memburu, naga menontonnya dan makan daging yang diberi kepadanya. Ada orang kampung yang mengatakan bahwa pada suatu hari, dia membuang kotoran diatas gunung. Dia melihat ke langit dan tiba-tiba, ada naga didepannya. Naga itu bisa menggigitnya tetapi dia pergi begitu saja.

Mereka tidak pernah membunuh naga Komodo dan menyatakan naga itu belum pernah membunuh mereka walaupun ada anak sekolah yang digigit. Mereka mengejutkan naga itu dan dibebaskan dengan segera.

Orang kampung juga bilang bahwa laporan tentang wisatawan yang dimakan oleh naga di Pulau Komodo tidak meyakinkan. Menurutnya, wisatawan itu mungkin hilang dan meninggal karena pembukaan. Ada versi lain:

‘Pada tahun 1973, wisatawan Swiss yang tua dan pemandunya berjalan di Pulau Komodo. Orang Swiss itu terjatuh dan melukai kakinya di batu. Pemandunya turun gunung dengan cepat untuk mengambil pertolongan tetapi ketika dia dan regu penolongnya kembali, mereka hanya bisa menemukan tas dan genangan darah.’

Ataukah wisatawan itu dimakan oleh naga Komodo atau tidak, selama banyak tahun, ada hubungan karib antara naga dan orang kampung tetapi sekarang, hubungan itu terancam.

Semula, tempat yang paling dikunjungi di Pulau Komodo adalah pusat pemberian makanan, sekarang ditutup. Wisatawan bisa masuk daerah yang dikanding untuk perlindungan dari naga Komodo. Mereka membeli rusa mati dari orang setempat dan itu ditaruh di lubang. Kemudian, naga Komodo memakan sementara pariwisatawan memotret pemandangan itu.

Ketika Pulau Komodo menjadi bagian Warisan Alam Dunia, naga Komodo harus dilindungi dari campur tangan manusia. Pusat pemberian makanan itu ditutup dan naga Komodo lapar mulai masuk kampung dan memakan kambing dan ayam. Sementara saya mewawancarai wakil kepala desa, ada teriakan dari keluar rumahnya karena naga Komodo masuk kampung itu dan membunuh kambing.

Walaupun situasi sekarang memelihara kelakuan alam naga Komodo, keselamatan masyarakat di kampung, binatangnya, dan hubungun antara masyarakat dan naga Komodo terancam.

Friday, July 06, 2012

Ikan Termahal di Dunia seharga 6,7 Milyar!!

Ikan Termahal

Seekor ikan tuna laku terjual US$ 736.500 (sekitar Rp 6,7 miliar) dalam lelang di pasar ikan Tsukiji, Tokyo, Jepang, Kamis (5/1), menjadikannya sebagai ikan termahal di dunia. Tuna sirip biru raksasa dengan bobot 269 kilogram ini ditangkap di perairan Jepang timur laut. Dengan harga tersebut, 1 kilogram tuna bernilai sekitar US$ 1.200.

Lelang tuna di tahun baru selalu mendapatkan perhatian besar di Jepang dan sudah menjadi tradisi lelang ini selalu mencetak rekor baru. Namun, tidak banyak yang menduga harganya akan menembus tiga perempat juta dolar. Harga tahun ini memecahkan rekor tahun lalu yang mencapai tak kurang dari US$ 400.000 untuk satu ekor tuna.

Pemenang lelang tahun ini adalah Kiyoshi Kimura, pemilik jaringan restoran sushi. Ia mengatakan dirinya ingin membesarkan hati rakyat Jepang dan membantu bangsa Jepang pulih dari bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat tahun lalu. "Jepang mengalami masa-masa sulit tahun lalu karena bencana. Jadi kami perlu menunjukkan diri bahwa Jepang bisa bertahan," kata Kimura.

Kimura juga mengatakan ingin tuna raksasa ini tidak dibeli orang asing atau dibawa ke luar Jepang. Tuna termahal tahun lalu dibeli pengusaha Hong Kong Ricky Cheng, yang juga dikenal sebagai pemilik jaringan restoran makanan Jepang di Tokyo dan Hong Kong.

Penangkapan besar-besaran membuat persediaan tuna menurun tajam di seluruh dunia. Hampir 75 persen tangkapan ikan tuna sirip biru di seluruh dunia dikonsumsi warga Jepang.(BBC/ADO)

Ular Terbesar Sepanjang Sejarah


Ular Terbesar Sepanjang Sejarah

Seekor predator sepanjang 14,6 meter dan berbobot 1,13 ton yang melata melalui hutan-hutan hujan 60 juta tahun yang lalu ini dihidupkan kembali oleh Museum Smithsonian. Pada masa dinosaurus, ular predator Titanoboa merupakan ular yang terbesar di dunia. Bahkan ukurannya yang besar jauh di atas ular anaconda yang selama ini dianggap orang sebagai ular terbesar di dunia. Para ilmuwan dari Museum Smithsonian merekonstruksi ular raksasa ini untuk mengetahui bagaimanakah kehidupan di bumi setelah dinosaurus lenyap ditelan zaman. Sebuah acara TV pun dibuat untuk memberi tahu pemirsa kenapa ular Titanoboa bisa tumbuh sedemikian besarnya.

“Penemuan begitu fantastis sehingga ular ini tampak seperti hasil fantasi. Sesosok makhluk yang muncul di era yang dibayangkan Steven Spielberg di masa lalu,” ungkap David Royale, kepala program Saluran Smithsonian. Saluran Smithsonian membuat film yang mengisahkan penemuan ular raksasa yang hidup 60 juta silam ini. Selain itu, mereka juga merangkai temuan-temuan rangkanya untuk membuat rekonstruksi ular ini. Sebuah patung yang berukuran sama seperti Titanoboa yang sebenarnya dipamerkan di Grand Central di New York untuk memromosikan film tersebut. Tulang belakang Titanoboa ditemukan di daerah tropis hutan hujan di Kolombia yang telah ada sejak zaman Palaeosen.Kemudian fosil ular raksasa lainnya ditemukan di kawasan tambang di Cerrejon, Kolombia. 

Sebelumnya, tak pernah ditemukan fosil hewan bertulan belakang yang hidup 65-55 juta tahun silam di Amerika Selatan. Dr. Jonathan Bloch yang berprofesi sebagai paleontologis sekaligus kurator Florida Museum of Natural History mengatakan fosil tengkorak Titanoboa hampir mustahil untuk ditemukan karena amat rapuh sehingga sangat mungkin telah musnah ditelan waktu. Ia juga mengatakan bahwa setelah dinosaurus punah, Titanoboa yang panjangnya melebihi ukuran bus kota ini menjadi penguasa daratan sebagai predator terbesar di muka bumi.

Ikan Cupang

cupang

Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Di Indonesia terdapat cupang asli,salah satunya adalah Betta channoides yang ditemukan di Pampang, Kalimantan Timur.

Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup.

Ikan cupang memiliki aneka ragam warna dan jenis yang penuh pesona. Selain mudah berkembang biak, jenis ikan yang hidup di rawa ini, juga memiliki peluang bisnis yang lumayan bagus. Cupang adalah jenis ikan tropis yang hidup di rawa – rawa. Paling besar ukuran hanya lima centi meter. Ada dua jenis ikan cupang. Cupang kelas kontes atau cupang hias dan cupang adu


Ikan Cupang
pertarungan cupang
Sifat dari ikan cupang adalah gemar berkelahi Apabila dua ikan cupang dewasa berada dalam satu wadah, maka perkelahian antar sesamanya tak dapat terelakkan lagi. Akibat dari kegemarannya itu, tak jarang banyak ikan–ikan cupang yang terluka. Luka akibat perkelahian mengakibatkan, baik sirip dada, punggung, perut anal bahkan ekornya robek-robek berdarah bekas gigitan lawannya. Oleh karena kegemaran dari ikan cupang berkelahi, banyak para pecinta ikan cupang yang ingin memilikinya. Selain untuk dinikmati keindahannya, juga disenangi untuk adu ikan cupang. Rasa semangat dan bangga apabila ikan cupang miliknya menjadi juara di arena adu cupang.

- Ikan Cupang Adu (Petarung)
Betta imbellis
Jenis Cupang adu (petarung) jenis ini pada umumnya berasal dari Singapura atau lebih terkenal dengan sebutan Singapura belgi. Sedangkan ikan jenis betta imbelis yang berasal dari Indonesia dari daerah Bagan Siapi-api (betta imbellis var Sumatraensis).


betta imbellis
betta imbellis
betta imbellis var Sumatraensis









Betta splendens, 
cupang
Selain sebagai cupang hias,betta splendes merupakan jenis adu terutama jenis yang lama. menurut catatan ikan ini telah dibudidayakan sejak tahun 1970.Ikan ini memiliki daya tahan yang kuat namun tidak ditopang dengan gigi tajam dan sisik yang kuat.Pada tutup ingsangnya terdapat 2 garis vertikal berwarna merah.sosok cupang ini bisa dibilang kecil dengan warna tubuh cenderung gelap.warnannya perpaduan antara merah tua dan biru tua serta tidak ada totol di tubuhnya.gerakan tubuhnya cendrung agresif dan terlebih dahulu menyerang ketika bertarung

- Jenis Ikan Cupang Hias
Crowntail (ekor mahkota) atau serit, 
serit
cupang jenis ini pertama kali dibudidayakan oleh seorang peternak cupang yang tinggal di daerah Jakarta barat, tepatnya didaerah slipi skitar tahun 1968( oleh karena itu slipi di sebut juga sebagai pusat ikan cupang hias,nya indonesia ) Ciri utamanya adalah sirip dan ekornya yang menyerupai sisir sehingga di namakan serit.



Halfmoon, 
cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982. 







Double tail (ekor ganda)
cupang
Cirinya adalah bentuk ekor membelah menjadi 2









Plakat Halfmoon 
cupang
bentuknya hampir sama dengan tipe petarung. Namun bila amarahnya terusik, tipe plakat ini akan mengembangkan siripnya hingga tegak melebihi 180 derajat. inilah yang membedakan dengan cupang petarung. 







giant (cupang raksasa), 
cupang
cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm







Dan dibawah ini adalah Gambar - gambar keindahan cupang dari e beta.com yang sayang bila di lewatkan
cupang



cupang
cupang


















cupang















cupang


cupang
cupang
cupang
cupang